Saturday, January 26, 2008

Masa Depan Komik Indonesia: Pencarian atas Identitas Kultural

Apa sih definisi komik Indonesia? Apa perlunya mendefinisikan komik Indonesia? Dari sudut pandang mana mau didefinisikan? Kenyataan bahwa saat ini terjadi perubahan arus pekerjaan skillfull yang beralih ke negara-negara dunia ketiga atau negara berkembang, termasuk terbukanya lahan pekerjaan membuat ilustrasi berkaitan dengan komik dari luar negeri, apakah itu menguntungkan bagi perkembangan komik lokal atau tidak?

Semuanya disinggung pendek-pendek sekedar ilham dadakan.

Sebenarnya saya tak punya otoritas untuk mendefinisikan apa itu komik Indonesia, tapi karena melihat isu yang lucu tentang klaim kesenian dan kebudayaan antara negeri serumpun, yang akhirnya membuat Presiden SBY memberi cenderamata kepada Pangeran Jepang berupa ‘Angklung’, padahal selama ini baru diketahui kalau guru angklung mendapatkan nafkahnya dari mengajar angklung di negeri tetangga. Konon katanya seni budaya kita tetapi justru negeri lain yang perhatian dengannya. Terlebih aneh lagi ketika diterbitkan buku tentang perjalan selama 40 hari ke Eropa memperkenalkan seni angklung Indonesia oleh sekelompok orang yang nyaris atau memang sudah bergelandang dan nyaris tidak ada perhatian sama sekali dari pihak pemerintah Indonesia sendiri. Kenapa aneh? Karena akhirnya dominasi perangkat makan minum dari perak dengan cap garuda pancasila, lukisan, dan terutama wayang kulit dan jenis-jenisnya yang lain mulai tergantikan dengan ‘angklung’.

Angklung menjadi simbolik identitas budaya Indonesia di era global yang saling menekan budaya-budaya bangsa yang ‘kecil’. Selain pemenuhan kebutuhan ekonomi, bagaimanapun seseorang membutuhkan identitas kultural bagi dirinya.

Mungkin belum ada lagi komikus yang terpikir untuk membuat cerita tentang ‘angklung’, tapi mungkin ada yang membantah, kalau terpikir sudah ada tapi belum sempat diwujudkan. Mengapa angklung? Tidak ada apa-apa sebenarnya, cuma selintas lalu saja.

Sebenarnya juga saya juga tidak tahu bagaimana mendefinisikan komik Indonesia itu. Disini kebetulan saja sekedar ingin bertanya pendapat tentang pandangan masing-masing orang dalam mewujudkan komik yang paling ter-indonesia (penggunaan bahasa yang sangat tidak meng-indonesia).

Komik Indonesia mungkin tidak perlu didefinisikan secara mutlak tapi bagi orang seperti saya, rasanya perlu mempunyai kaidah-kaidah dan atau guideline, garis panduan untuk mengenali komik yang meng-Indonesia. Meskipun budaya dunia sudah begitu mengglobal dan campur aduk di Indonesia tetapi saya termasuk orang kolot yang percaya, seni dan identitas budaya Indonesia masih harus diciptakan dengan tanpa melupakan yang lama. Bentuk boleh berubah tapi esensi tetap sama dan dikembangkan, diperkaya dan disempurnakan. Tidak ada budaya yang sempurna lahirnya, karena budaya itu kreasi manusia.

Komik Indonesia menurut pandangan saya itu adalah ditinjau dari visualisasi dan konsepsinya.

Secara fisiknya, penampilan komik Indonesia harus dapat mencirikan wajah-wajah orang Indonesia sendiri, dari figur wajah sampai kontur tubuh. Secara keseluruhan gambar komik Indonesia harus merupakan representasi visual (visual representation) dari alam pikir orang Indonesia, karena itu seharusnya idiom-idiom visual dalam komik Indonesia menampilkan bahasa visual-nya yang merujuk kepada alam, lingkungan dan masyarakat dimana komik Indonesia itu dilahirkan.

Kalaupun komik itu mengambil cerita dari segala penjuru dunia, misalnya dari dongeng seribu satu malam hingga hikayat beowulf dan grendel, atau bersetting cerita di luar negeri, di alam khayal antah berantah, tetap saja identitas komik Indonesia harus dapat diwujudkan dalam gambar visualnya. Cara seorang komikus Indonesia melukiskan dan menginterpretasi atau menafsirkan kembali cerita dari luar negeri, setting negeri antah berantah, adalah yang membedakannya dari komikus-komikus negeri lain. Kemampuannya berpikir, menganalisa, mengkritisi dan mensintesa cerita dan setting dari luar negeri itu menjadi komik Indonesia itulah yang menjadikannya sebagai komik ‘Indonesia’.

Kalaulah ada seribu komikus ilustrator berbangsa Indonesia bekerja untuk komik-komik di Jepang, Amerika dan Eropa, maka adakah karya-karya mereka dapat kita klaim sebagai ‘komik Indonesia’? atau

Kalaulah ada seribu judul komik yang dicetak dan diterbitkan di Indonesia tetapi bukan berdasarkan cerita atau ide cerita dari Indonesia atau orang Indonesia sendiri, dapatkah disebut sebagai komik Indonesia? atau

Mungkin suatu saat nanti karena kondisi negeri republik Indonesia tidak kondusif untuk kerja-kerja kreatif seperti membuat komik ini, pada akhirnya komik Indonesia menemukan tempatnya di luar negeri, dapatkah komik-komik karya anak Indonesia yang diterbitkan oleh penerbit luar negeri disebut sebagai komik Indonesia? atau

Haruskah komik Indonesia dikarang dan digambar oleh anak Indonesia sendiri? Bukan tidak mungkin komik Indonesia di masa depan adalah karya komikus luar negeri, mengingat sejarah bangsa Indonesia pun telah banyak diteliti, ditulis dan dibukukan oleh bangsa asing. Bukan tidak mungkin pula masa depan komik Indonesia berada di tempat atau di tangan bukan orang Indonesia sendiri.

Besar kemungkinan komik Indonesia eksis dan hadir bukan di Indonesia, bukan dikarang oleh anak Indonesia dan bukan pula digambar oleh komikus Indonesia. Sebagai contoh, barangkali mirip dengan Van Dogen yang membuat komik Rampokan Java. Komik (tentang) Indonesia eksis di luar negeri dan menjadi bacaan bermutu bagi masyarakat luar negeri. =)

Secara sederhana, komik Indonesia adalah komik yang mencitrakan ke-indonesia-an baik melalui tampilan representasi visual dan penggunaan idiom-idiom visualnya, maupun melalui konsepsi berupa cerminan olah pikir, refleksi, atau makna dari masyarakat (komikus sendiri) Indonesia yang melampaui sekedar cerita ataupun gambar. Seperti pandangan orang Jepang yang mengatakan meskipun orang bukan Jepang dapat berbahasa fasih atau bahkan lebih baik dari orang Jepang sendiri, karena dia bukan orang Jepang maka orang asing itu tidak dapat mewarisi spirit bangsa Jepang, meskipun ia lahir dan besar dalam budaya Jepang, sedangkan dia tidak mempunyai darah turunan bangsa Jepang. Secara lucu-lucuan, bagaimanapun bagusnya orang bule menari tarian Bali, namun si bule mungkin tidak pernah dapat menjiwai tarian seperti orang Bali menjiwainya.