Saturday, December 30, 2006

lanjutan masa kecil


Monday, December 25, 2006

Masa Kecil

Cergam ini aku sebut sebagai Sastra-Grafis, cuma buat main-main aja. Tapi malah jadi suka dan keterusan buat eksprimen dengan medium komik ini. Cergam ini pernah diikutkan dalam perlombaan ngomik di KomikAsia ITB tahun berapa, ya? 2002 atau 2003 gitu sepertinya. Gak sempat datang waktu pamerannya, tapi teman-teman ada ngikutin sambil liburan di bandung. Dari sana jadi tau Dr.Muliyadi yang sekarang jadi supervisor thesis aku dan juga rupanya Kosei Ono yang jadi pembicara disana adalah pemerhati komik, ayahnya Saseo Ono adalah tentara yg pelukis, selama bertugas di Bandung. Begitulah lika-liku cergam ini, dapet penghargaan sebagai Five Best, dan juga duit lumayan untuk cergam 8 halaman. Ke Bandung ngambil piala segala, agak besar untuk di bawa-bawa, jadinya dipretelin dimasukin ke tas koper.

Cergam ini sendiri tanpa sengaja mirip dengan puisi Joko Pinurbo, berjudul Masa Kecil juga. Akhirnya sempat berhubungan melalui email, dan aku kirim cergam ini buat penyair favoritku itu. Haha... Sebenarnya didalam cergam ini ada karakter Gina dari Gerdi WK, tapi sampai sekarang belum berkesempatan untuk bertemu dengan beliau.
Cerita cergam ini hanya fragmen-fragmen dari mimpi-mimpi yang aku tuangkan dalam bentuk cerita bergambar. Didalamnya adalah orang-orang yang dekat denganku semenjak kecil. Rasa kehilangan Kakek masih membayang, dan foto-foto masa kecil menjadi inspirasiku, karena tanpa foto-foto itu kenangan hanya akan menjadi lembaran kosong belaka.

Saturday, December 23, 2006

Kolom Kartun Dr. Muliyadi

Associate Prof. Dr. Muliyadi Mahamood adalah peneliti dan pakar kartun dari Universiti Teknologi MARA, Shah Alam -Selangor, Malaysia. Kebetulan saya mengikuti tulisan-tulisan beliau di majalah Gila-Gila, salah satu pelopor majalah humor di Malaysia. Dr. Muliyadi memperoleh S3-nya Cartoon Studies di University of Kent, Cantebury, UK, 1997, meneliti sejarah kartun editorial Malaysia dari tahun 1930an-1993. Jenis penelitian yang sama dengan Dr. Priyanto S. yang meneliti kartun editorial Indonesia sejak tahun 1930-an. Mudah-mudahn Dr. Priyanto yang juga kartunis editorial tetap Tempo berkenan melahirkan tulisan-tulisannya.

Dalam majalah Gila-Gila, Dr. Muliyadi mempunya kolom artikel tersendiri yang berjudul 'Dunia Kartun'. Sejak edisi ke 660an ke atas, saya mengkoleksi sejak 665, beliau menulis tentang kartun dan komik di Indonesia. Berikut ini saya scan beberapa edisi yang menceritakan tentang cergam, eh, komik Indonesia alternatif.

Sunday, September 17, 2006

Menjadi Anti-Sosial adalah Keren! The otaku reader

Masalah gejala sosial yang satu ini memang selalu terjadi di setiap jaman, tetapi bagaimana kalau oleh golongan tertentu yg mempunyai kuasa dan duit memanfaatkannya untuk keuntungan pribadi. misalnya dengan mempopulerkan gaya hidup anti-sosial secara 'sublim' melalui budaya pop yg melanda anak-anak muda dan mungkin sekali remaja dewasa dan orang tua di masa depan.

Otaku pernah terjebak dikatakan sebagai golongan penggemar terhadap sesuatu secara berlebihan. Tanggapan terhadap otaku sudah mulai terbuka. tetapi ada yg lebih berat daripada otaku ini yaitu NEET dan Hikikomori.

NEET alias orang2 yg tidak kerja, tidak terdidik dan ga punya keahlian. Ini adalah tahap paling buruk dari Freeter dan Slacker (mereka yg tergantung pada kerja sampingan). tetapi anehnya, seorang tukang sapu sekolah dan satpam supermal bisa tetap bersosialisasi.
katanya efek terburuk dari masalah status sosial dalam masyarakat yg menuntut macam2lah yg mengakibatkan tumbuhnya kumpulan NEET ini. Golongan ini adalah golongan termarjinal atau tersingkir dari ekonomi dan budaya.

Kalau di Jepang, kejadian ini berlangsung karena efek samping dari kemajuan budaya, ekonomi dan teknologi-nya, sedangkan di Indonesia dan sebagian negara2 berkembang di Asia (yg belum cukup maju dan mapan spt jepang) menjadikannya panutan untuk di tiru dengan alasan 'cool!'

Menjadi otaku yang anti-sosial itu keren abis! So, what gitu, loh!:)

Saturday, September 16, 2006

Mempertanyakan 'Ketiadaan Tradisi Gambar Figuratif dalam Budaya Visual Nusantara'

Dalam bukunya Dari Gatotkaca hingga Batman: Potensi-potensi Naratif
Komik, mas Hikmat melontarkan satu asumsi bahwa tersirat adanya sebuah
persoalan mendasar dalam komik Indonesia karena tidak memilik tradisi
gambar yang kuat., bukan berarti tidak ada penggambar yang kuat
demikian dugaannya.
Selanjutnya di katakan bahwa tradisi gambar yang kita miliki sehingga
akhir abad 19 adalah tradisi gambar dekoratif, yang bukan bersifat
figuratif. Peradaban Hindu, Buddha, China dan Islam mewariskan
keenganan merengkuh bentuk-bentuk rupa realis. Kecenderungan yang
tumbuh adalah bentuk-bentuk hiasan dalam menyampaikan pesan
simbolisasi dari moral dan spiritual.

Dalam konteks yang lebih luas, saya mengedepankan apa yang sudah
di-isu-kan oleh mas Hikmat, bahwa ketiadaan tradisi gambar figuratif
ini secara luas terjadi di hampir seluruh wilayah budaya visual
nusantara. Tapi pertanyaannya adalah apakah benar demikian?

Persoalan ketiadaan tradisi menggambar yang diwariskan kepada komik
bukan terjadi hanya pada Indonesia, boleh dikatakan seluruh asia
tenggara mengalami persoalan komik yang sama, singapura, thailand,
malaysia, vietman, myanmar dan negara2 asia tenggara lainnya.

Sebelum ini saya pernah melontarkan argumen bahwa ciri khas tradisi
gambar kita berkaitan dengan komik dapat di huraikan ke masa lalu
dengan melihat relief candi-candi. Tradisi itu berkaitan dengan asumsi
saya bahwa tradisi gambar nusantara terkait dengan kegiatan
kontemplatif, sebagai bagian dari simbolisasi moral dan spiritual.

Tapi, kalau kita melihat data-data visual yang ada, ketiadaan tradisi
figuratif tidaklah benar sekali. Kalau melihat lukisan di goa
Leang-Leang, Sulawesi menunjukkan figur-figur paling primitif. Ukiran
relief candi dan wayang beber menunjukkan figur-figur stilasi. Mungkin
teman-teman lain bisa menambahkan contoh2 tradisi figuratif yang
pernah ada di Indonesia dan Nusantara lainnya, misalnya kalau kita
mengutip contoh2 dari kajian Claire Holt di Art in Indonesia:
Continuities and Change (terjemahannya oleh Prof Sudarsono ya kalo ga
salah, lupa), maka akan banyak ditemui tradisi 'gambar' figuratif.
Gambar disini saya setarakan dengan 'drawing' dalam makna paling
sempit adalah bersifat 'flat' dan monochromatic sehingga yang luas
yang bisa kita dapati gambar menggunakan berbagai material dan teknik.
Angela Kingston melakukan kajian terhadap eksprimentasi tiga orang
artis dengan latar belakang berbeda tetapi pada setting kondisi yang
mirip (identik) satu sama lain. Tiga orang artis yg berpartisipasi
adalah Lucy Gunning, Claude Heath, dan Rae Smith. Hasilnya menggambar
bukanlah semata dua dimensi atau terbatas pada medium kertas dan
peralatan gambar tertentu.
Setelah melebarkan makna 'gambar' saya ingin mengembalikan fokus
kepada pertanyaan 'ketiadaan' tradisi gambar itu kembali.
Kembali dengan membaca apa yang ditulis oleh mas Hikmat, bahwa terjadi
pematahan tradisi antara generasi. Pematahan tradisi gambar antara
generasi ini mengakibatkan tidak adanya kesinambungan tradisi.
Sebagian dari saya setuju dengan pernyataan itu, sebagian lagi tidak.
Pematahan yang terjadi bukan menyebabkan ketidaksinambungan, tetapi
lebih kepada ketidakmampuan menerjemahkan artifak budaya yang satu ke
artifak budaya yang lain. Komik adalah artifak budaya, didalamnya
adalah bukti keberadaan sebuah sosial dan kebudayaan sebuah bangsa.
Pematahan yang terjadi lebih besar daripada sekedar tidak ada yang
meneruskan gaya gambar atau teknik gambar tertentu. Dilihat dari
pematahan yang ada, dari budaya hindu budha china arab islam barat
jepang, maka sinkretisme yang dulu kala berlangsung mulus menjadi
terpatah-patah. Ketidakmampuan menerjemahkan sebuah media ke media
lain menjadi alasan yang kuat melanda tradisi gambar kita.
Kalau disetarakan dengan tradisi menggambar (visual) barat, maka titik
tolaknya adalah tradisi gambar era modern. Proto komik lahir dan pesat
berkembang sebelum dan sesudah adanya industrialisasi.
Bertolak dari sanalah tradisi gambar yang menurun ke komik modern di
barat. Di jepang, ukiyo-e menjadi tradisi visual era sebelum sejarah
modern dan kemudian menjelma kembali di dalam tradisi visual modern
jepang. Medium print-making ini bermediasi kembali ke dalam bentuk2
tradisi visual modern jepang spt desain grafis poster, iklan-iklan,
dan termasuk juga manga.
Pada kita, kenyataannya adalah kegagalan mengartikulasikan kembali
tradisi visual sebelum sejarah modern ke dalam bentuk tradisi visual
modern masa kini. Kegagalan inilah yang dianggap sebuah pematahan
tradisi, dari ngukir tembok candi pindah ke ngukir di atas plate cetak
separasi.
Saya sendiri berpendapat bahwa kata 'tradisi' itu sendirilah yang
menjadi bentuk kekangan yang memang bersifat melindungi namun berubah
menjadi alat destruksi yang menghancuran tradisi itu sendiri dari dalam karena menimbulkan stagnansi dalam berkarya.
Kalau saja dalam cergam (komik indonesia) bisa melihat dengan
merentas batas waktu, tidakada yg tradisi atau yg modern, maka
pematahan itu dapat disambung kembali. Bentuk2 visual dapat dilahirkan
kembali melalui pengartikulasiannya dalam medium gambar 'cergam'.

Sekarang saya jadi ingin mempertanyakan ketiadaan tradisi menggambar
figuratif dalam budaya visual kontemporer di nusantara, apakah benar
demikian?

Wednesday, September 13, 2006

Mumbling Our Comics

Part 1.

Recalling Comic Againts Forgetness

Forgetness ­­­--not as a comical story-- happens when we keep ignoring things, so-called ’missing link’ as Donny Anggoro mentioned in his essay Sejarah Komik Indonesia: Kepala Tanpa Leher (Indonesian Comic History: Head Without Neck). One effort to make our head attached to the neck is to recall things that we’ve been doing for our comic’s development.

On the contrary from the public’s opinion that comic is just for children, we can actually find philosophycal, political, historical as well as cultural theme in translated comic books. For example, the serials of for beginners about famous intellectual people, the history of chinese culture, the serial of Classic Chinese Philosophers, Three Kingdoms Romance, Jengis Khan, wisdom words from Al-Ghazali and a lot more about tales of the prophets and their companion, as well as other religious comics. This indicates that comic has been improved as an effective communication media for serious and educative matters.

The hot topic in today’s trend is the foundation of independent publisher which is usually called indie (independent) or underground, a movement which has been doing a counter culture, againts the stable-mainstream comic industry both in distribution as well as ideology. Because of that, comics which have more matured genre and individual orientation pop up and have been developed, eventhough the distribution is limited in the exclusive part of the society. The creator of indie/underground comic have been involved in mainstream comic industry before. One of the actor is Beng, which had been in Animik World before he moved to underground movement in 1999. For him, the important values that worth to be struggled for are education value, egalitaire (equality) and also recretional. There is also one artist whose nick name is Zeus from Studio Petshop wishes that someday comic can be regarded as a form of art in front the public’s eye and that local comics can be a master at its home so that comic artists can make a living from it.

Just before and after the beginning of 21th century, during 1998 till this 2005, there are many local comic publisher and comic magazines created, both in independent production as well as official publisher, such as Koin, Komikland, Wayang Gaul, Tabloid Komikka for comic magazines, and SAP Project, MAKO, Union for comic tabloid. These published product will continue to rise and fall in providing comic exhibition and bazaar which are quite a celebration lately. A few official publisher beside Mizan and Gramedia, have openly accept local comic artist to produce their work. Some of the publishers are, Terrant Comic, Dahara Comic, Komunitas Nisita,Riko Amer Production, Gagas Media, Creative Media and Asy Syaamil.

Another factor that melts the stagnant state of comic development in Indonesia is the foundation of some new comic communities since 1990s. Among the communities, there is one of the pioneer which is quite famous is Kajian Komik Indonesia (KKI). It is established by Literature Faculty of Indonesia University since 1993. Mrs. Rahayu S. Hidayat as the chief of the community, through a clearly local phone call, said that she is so excited to monitor the development of Indonesian local comic lately compared with the condition in last decade when the idea of the communities is created between young lectures in that time. The idea was to arrange a seminar about comic, one or two times and then they started to make a local comic exhibition regularly and finally the National Education Department and Balai Pustaka (big educational publisher) took a part by arranging a comic competition and Comic and Animation Exhibition I in 1998. The continuance is there were many exhibitions and others kind of activity in many cities that drives big publisher to give a portion for local comic artist to publish their work.

One of the most famous communities which catch up the former is Masyarakat Komik Indonesia (MKI). It is founded at the end of the first Pekan Komik Nasional (The Week of National Comic) exhibition on the spot in 1997. Their powerful slogan is ‘Support Your Local Comic Movement’. It is created by Ardie from comic studio Karpet Biru (Blue Carpet), a studio community which started its story from assembly on the blue carpet in a campus. From that moment, there were a continuation creation of new comic communities based on campus, mailing list groups and online forums discussion. Some of the mailing list groups are quite a mass. They are MKI, Klub Komunitas Indonesia and iComics. There are also online forum discussions which provide special division for comic chats such as, forum.indicomic, forum.kafegaul, forum.webgaul, forum.masterweb dan forum.freakschool. Inside the forum, members can actively exchange their opinions and news, chatting between the comic artist and the fans and debating serious matters about the development of comic Indonesia. Online discussions are more long lasting then websites dedicated for comic, such as planetmerah.com, kitakita.com, barong-komik.com dan mikon.diffy.com. But now, there is one significant website, indicomic.com, with a webmaster, Fitra Sunandar. It has already professionally managed and success in gathering many comic artist to post their comics online, also there is an effort to publish the comics offline.

Nowadays, internet become everyone’s favorites as an alternative medium to display, distribute and discuss comic, as in the communities (written before) or through personal blogs.

Tuesday, September 12, 2006

My blog for comics discussion

This is my new blog which i concerntrate into comics research field. I wish it could help me to collect data and thought on the net. At the same time share with others and get some input.