Saturday, September 16, 2006

Mempertanyakan 'Ketiadaan Tradisi Gambar Figuratif dalam Budaya Visual Nusantara'

Dalam bukunya Dari Gatotkaca hingga Batman: Potensi-potensi Naratif
Komik, mas Hikmat melontarkan satu asumsi bahwa tersirat adanya sebuah
persoalan mendasar dalam komik Indonesia karena tidak memilik tradisi
gambar yang kuat., bukan berarti tidak ada penggambar yang kuat
demikian dugaannya.
Selanjutnya di katakan bahwa tradisi gambar yang kita miliki sehingga
akhir abad 19 adalah tradisi gambar dekoratif, yang bukan bersifat
figuratif. Peradaban Hindu, Buddha, China dan Islam mewariskan
keenganan merengkuh bentuk-bentuk rupa realis. Kecenderungan yang
tumbuh adalah bentuk-bentuk hiasan dalam menyampaikan pesan
simbolisasi dari moral dan spiritual.

Dalam konteks yang lebih luas, saya mengedepankan apa yang sudah
di-isu-kan oleh mas Hikmat, bahwa ketiadaan tradisi gambar figuratif
ini secara luas terjadi di hampir seluruh wilayah budaya visual
nusantara. Tapi pertanyaannya adalah apakah benar demikian?

Persoalan ketiadaan tradisi menggambar yang diwariskan kepada komik
bukan terjadi hanya pada Indonesia, boleh dikatakan seluruh asia
tenggara mengalami persoalan komik yang sama, singapura, thailand,
malaysia, vietman, myanmar dan negara2 asia tenggara lainnya.

Sebelum ini saya pernah melontarkan argumen bahwa ciri khas tradisi
gambar kita berkaitan dengan komik dapat di huraikan ke masa lalu
dengan melihat relief candi-candi. Tradisi itu berkaitan dengan asumsi
saya bahwa tradisi gambar nusantara terkait dengan kegiatan
kontemplatif, sebagai bagian dari simbolisasi moral dan spiritual.

Tapi, kalau kita melihat data-data visual yang ada, ketiadaan tradisi
figuratif tidaklah benar sekali. Kalau melihat lukisan di goa
Leang-Leang, Sulawesi menunjukkan figur-figur paling primitif. Ukiran
relief candi dan wayang beber menunjukkan figur-figur stilasi. Mungkin
teman-teman lain bisa menambahkan contoh2 tradisi figuratif yang
pernah ada di Indonesia dan Nusantara lainnya, misalnya kalau kita
mengutip contoh2 dari kajian Claire Holt di Art in Indonesia:
Continuities and Change (terjemahannya oleh Prof Sudarsono ya kalo ga
salah, lupa), maka akan banyak ditemui tradisi 'gambar' figuratif.
Gambar disini saya setarakan dengan 'drawing' dalam makna paling
sempit adalah bersifat 'flat' dan monochromatic sehingga yang luas
yang bisa kita dapati gambar menggunakan berbagai material dan teknik.
Angela Kingston melakukan kajian terhadap eksprimentasi tiga orang
artis dengan latar belakang berbeda tetapi pada setting kondisi yang
mirip (identik) satu sama lain. Tiga orang artis yg berpartisipasi
adalah Lucy Gunning, Claude Heath, dan Rae Smith. Hasilnya menggambar
bukanlah semata dua dimensi atau terbatas pada medium kertas dan
peralatan gambar tertentu.
Setelah melebarkan makna 'gambar' saya ingin mengembalikan fokus
kepada pertanyaan 'ketiadaan' tradisi gambar itu kembali.
Kembali dengan membaca apa yang ditulis oleh mas Hikmat, bahwa terjadi
pematahan tradisi antara generasi. Pematahan tradisi gambar antara
generasi ini mengakibatkan tidak adanya kesinambungan tradisi.
Sebagian dari saya setuju dengan pernyataan itu, sebagian lagi tidak.
Pematahan yang terjadi bukan menyebabkan ketidaksinambungan, tetapi
lebih kepada ketidakmampuan menerjemahkan artifak budaya yang satu ke
artifak budaya yang lain. Komik adalah artifak budaya, didalamnya
adalah bukti keberadaan sebuah sosial dan kebudayaan sebuah bangsa.
Pematahan yang terjadi lebih besar daripada sekedar tidak ada yang
meneruskan gaya gambar atau teknik gambar tertentu. Dilihat dari
pematahan yang ada, dari budaya hindu budha china arab islam barat
jepang, maka sinkretisme yang dulu kala berlangsung mulus menjadi
terpatah-patah. Ketidakmampuan menerjemahkan sebuah media ke media
lain menjadi alasan yang kuat melanda tradisi gambar kita.
Kalau disetarakan dengan tradisi menggambar (visual) barat, maka titik
tolaknya adalah tradisi gambar era modern. Proto komik lahir dan pesat
berkembang sebelum dan sesudah adanya industrialisasi.
Bertolak dari sanalah tradisi gambar yang menurun ke komik modern di
barat. Di jepang, ukiyo-e menjadi tradisi visual era sebelum sejarah
modern dan kemudian menjelma kembali di dalam tradisi visual modern
jepang. Medium print-making ini bermediasi kembali ke dalam bentuk2
tradisi visual modern jepang spt desain grafis poster, iklan-iklan,
dan termasuk juga manga.
Pada kita, kenyataannya adalah kegagalan mengartikulasikan kembali
tradisi visual sebelum sejarah modern ke dalam bentuk tradisi visual
modern masa kini. Kegagalan inilah yang dianggap sebuah pematahan
tradisi, dari ngukir tembok candi pindah ke ngukir di atas plate cetak
separasi.
Saya sendiri berpendapat bahwa kata 'tradisi' itu sendirilah yang
menjadi bentuk kekangan yang memang bersifat melindungi namun berubah
menjadi alat destruksi yang menghancuran tradisi itu sendiri dari dalam karena menimbulkan stagnansi dalam berkarya.
Kalau saja dalam cergam (komik indonesia) bisa melihat dengan
merentas batas waktu, tidakada yg tradisi atau yg modern, maka
pematahan itu dapat disambung kembali. Bentuk2 visual dapat dilahirkan
kembali melalui pengartikulasiannya dalam medium gambar 'cergam'.

Sekarang saya jadi ingin mempertanyakan ketiadaan tradisi menggambar
figuratif dalam budaya visual kontemporer di nusantara, apakah benar
demikian?

No comments:

Post a Comment