Sunday, March 30, 2008

Meta Closure dan Relief Candi

Meta-Closure in Single Panel Comics dan Relief Candi Multi Layer.
http://comixtalk.com/print/13193
link di atas ini tentang Closure and Synthesis.
setelah membacanya, seketika saya teringat pada ulasan Primadi ttg relief candi yg dianggap sbg komik multi-layer.

Sedikit banyak ulasan ttg Meta-CLosure ini mirip dgn lapisan-lapisan cerita berurutan dalam sebuah relief candi. misalnya candi borobudur.

Adegan memanah yg dibuat berlangsung dalam satu relief batu ini juga mirip dgn lukisan Duchamp ttg seorang perempuan menuruni tangga. Dalam fotografi dikenal dgn teknik multiple-shots.

Friday, March 14, 2008

Sumbangan Komik Fiksi Ilmiah (superhero) pada kebangkrutan komik lokal

Dari kajian saya melihat sejarah komik Indonesia yg sering diutarakan teman2, dan juga melihat beberapa tema2 komik superhero atau fiksi ilmiah atau futuris atau teknologi masa depan gitu, saya berkesimpulan bahwa genre fiksi ilmiah inilah yg menjadi awal kebangkrutan cergam.
alasan sederhananya adalah, indonesia - lingkungan kita tidak mendukung baik mentalitas, cara pikir maupun teknologi yg kita miliki tidak mendukung utk membentuk logika dan nalar fiksi ilmiah itu sendiri.
Seberapa banyak masyarakat kita, terpisah dari komikusnya sendiri, yang membaca majalah atau jurnal2 teknologi sehingga mendukung fantasi imajinasi masa depan dunia?
Dimana tempat atau akses bagi kita utk mengetahui perkembangan terbaru dari sains dan teknologi?
Berbeda dgn Jepang, Amerika atau eropa yg punya basis teknologi made in Japan, USA, etc, apa teknologi Indonesia? Kita tak punya basis teknologi utk bermimpi ke masa depan.
Karena itu kekuatan komik kita sangat lemah kalau bercerita dari segi logika superhero atau sains fiksi lainnya. Yg ada kita hanya mampu mengekor atau merubah sana sini sedikit, tanpa ada logika nalar sains tersendiri. Baik itu karya dari Taguan ke Teguh hingga ke Hasmi.

Saya melihatnya fiksi ilmiah hanya sub genre yg diciptakan Taguan sbg variasi dari pesan yang ingin ia sampaikan. Artinya ia mencoba menjelajah berbagai kemungkinan potensi cerita komik. Pada komik2 Taguan ini, saya sempitkan hanya taguan, mungkin yg lain boleh menambahkan fiksi ilmiah atau fiksi mistik dari Zam Nuldyn, atau fiksi sejarah dari Delsy Syamsumar.
Taguan dengan sadar mengolah unsur kelokalan dengan capaian teknologi masanya. Indonesia memang bukan negara maju, tetapi pada saat itu LAPAN mempunyai proyek pengembangan roket. Cerita kapten yani tidak jauh menerawang kemana-mana tetapi bercerita dgn unsur2 konflik dan konspirasi, sedangkan batas firdaus bermain-main dengan psikologi dan pertanyaan2 filosofis.

Sungguh berbeda dgn Hasmi/Wid NS yang terpaksa menggabung unsur2 lokal berupa mistik (mirip kasus tenaga super captain Marvel dan Green Lantern) dengan tren superhero. Logika2 ini bertabrakan dgn kenyataan hidup masyarakat indonesia. Kemudian masuklah kembali kekuatan bercerita lokal melalui dagelan2 dan masalah2 keseharian dari tokoh manusia dari superhero ini yg selari dgn model superhero Spiderman, misalnya. Disini kita lihat, komik silat yg pernah sukses besar sekalipun menyumbang pada kehancuran komik lokal. Komik silat marak berbarengan dgn masuknya film2 kungfu (kl tidak salah distribusi Shawn Brothers yg mirip2 Warner Brother(bros)).
Dalam komik silat, kita mengadopsi logika kungfu yg ditambahkan kemudian dgn mistik sedikit di sana sini. Komik kita nyaris bukan berangkat murni dari pengembangan tradisi'pencak silat'.
Demikian juga yg terjadi dengan komik fiksi ilmiah dan superhero di era hasmi/wid ns. Komik kita kembali mengadopsi logika nalar sains fiksi dari komik2 amerika.

Boleh dikatakan, unsur2 kelokalan yg sebenarnya lebih menarik ketika dicampurkan dalam komik2 yg terpengaruh oleh tren silat, fiksi ilmiah dan superhero, perlahan tp pasti tergeser dan berakibat pada hilangnya kecintaan pembaca komik pada komik lokalnya sendiri.

Pada komik2 fiksi ilmiah sekarang ini, unsur2 kelokalan ini nyaris hilang atau dapat dikatakan hilang sama sekali. Sementara di masa lalu, komik fiksi ilmiah kita pun nyaris atau boleh dikatakan tidak punya bangunan nalar fiksi ilmiah tersendiri.
Bandingkan kekuatan super superhero amrik dgn tenaga dalam petarung kungfu komik hongkong dan jagoan-jagoan dari komik2 jepang. Secara kasat mata, masing2 arus utama komik dunia ini punya logika dan nalar fiksi ilmiahnya tersendiri.

jadi sebenarnya mengarang fiksi ilmiah ini jauh lebih sulit daripada merekam dan membuat komik anekdot semacam 100 tokoh jakarta itu. Fiksi ilmiah ini sebaiknya muncul atau dibangun berdasarkan nalar atau landasan mental dan pikiran masyarakat indonesia sendiri. Film trilogithe Matrix merupakan contoh pertembungan dan pertemuan dua nalar fiksi ilmiah yg diakibatkan kemajuan teknologi informasi dan kebangkitan spiritual dari sudut pandang barat(amerika) dan timur(jepang). Dan kedua negara maju ini punya filsafat teknologinya masing2. Amerika mengejar teknologi luar angkasa sedangkan jepang mengejar teknologi dasar lautan. =)

Novel Grafis dan Narasi Visual

Novel grafis (graphic novel dlm bhs aselinya) tidak dapat dipungkiri merupakan terminologi yang bernilai ekonomis sekaligus ideologis bagi Will Eisner dan para pengikutnya.

Dalam narasi visual film, sebagai contoh Pasir Berbisik, unsur fotografis sangat kental dalam pengambilan gambar (sinematografi)nya. Sang pembuat film terlihat menginginkan kesempurnaan pada setiap pengambilan frame ke frame, sehingga nyaris semua framing dalam film tsb dapat dianggap berdiri sendiri sbg foto tunggal. Dalam hal narasi visual disini saya sebutkan sebagai sebuah self-conciouss(ness), saya lupa ada penulis yg menerjemahkannya bukan sbg 'kesadaran diri' tetapi lebih tepatnya keterbangunan-diri.

Kembali pada novel grafis, saya ingin menambahkan bahwa unsur penjarak (differance) novel grafis dengan komik adalah keterbangunan-diri ini. Novel grafis menjadi terbedakan dari komik bukan hanya karena kompleksitas struktur/bangunan ceritanya, atau hanya dikarenakan dorongan maknawi yang timbul dari cerita. Unsur keterbangunan-diri inilah yang kemudian menumbuhkan minat pembaca komik yg sekaligus pendalam komik untuk menggali relasi novel grafis dan kesejarahan komik diteruskan pada illustrasi dan kesenian grafis lainnya.

Self-conciouss ini melibatkan pembaca/pengamat (reader/viewer) berada pada posisi sentral penuh dengan keterbangunan-diri. Dia tidak hanya sadar sedang membaca cerita yang dituturkan oleh komikus melalui buku komik yang dibacanya, tetapi sesuatu yang bersifat transendental terjadi pada kesadarannya itu.

Pada komik Promothea dan Flith, unsur2 metafiksi atau karakter dalam karakter atau cerita dalam cerita digambarkan muncul mengatasi atau mengintervensi cerita yang sedangkan berlangsung, contoh sederhananya adalah ketika tiba2 ada panel yg punya kehidupan cerita tersendiri, atau kemunculan mata pena menerjang gambar dan cerita dalam panel-panel.

Pembaca yang dalam kesadaran tengah mengikuti jalinan cerita, tiba-tiba dikejutkan oleh cerita lain yang masuk melalui visual tertentu. Keterbangunan-diri inilah yang merupakan bagian dari metafiksi.

Dalam novel grafis, terdapat berbagai cara pengolahan dan tingkat penyampaian oleh komikus utk menimbulkan keterbagunan-diri pembacanya.

Unsur gambar dan unsur teks makin tidak terpisahkan tetapi pada saat yang sama teks dapat mempengaruhi gambar, dapat memanipulasi pembaca, atau sebaliknya gambar tidak selari dengan teks. Alih-alih membaca komik, yang sedang terjadi adalah komik membaca kita. Narasi visual pada novel grafis mendorong pembaca untuk tidak hanya mengikuti cerita atau hanyut dalam cerita dan mengiyakan alur cerita yang dibawakan oleh komikus. Akan tetapi novel grafis mendorong kesadaran pembaca untuk terbangun dan membangun persepsinya sendiri terhadap apa yang dibacanya.

Karena itu dalam novel grafis banyak bermunculan metafora-metafora visual yang perlu dikaji dengan pisau bedah analisa semiotika gambar (pictorial semiotics - memungut terminologi yang ditawarkan oleh Goren Sonnesson).

Novel grafis sebagai artefak kebudayaan manusia, hingga kini masih mencari legitimasinya ditengah arus keragaman budaya kosmopolitan yang ada. Sebagai artefak sosial, komik merupakan medium ekspresi yang menciptakan artikulasi-artikulasi narasi visualnya sendiri, Groensteen menyebut ini dengan arthologi. Dan saya menyimpulkan novel grafis merupakan penghalusan (refinement) dari komik yang bertumpu pada keterbangunan-diri pada diri pembacanya.