Friday, March 14, 2008

Sumbangan Komik Fiksi Ilmiah (superhero) pada kebangkrutan komik lokal

Dari kajian saya melihat sejarah komik Indonesia yg sering diutarakan teman2, dan juga melihat beberapa tema2 komik superhero atau fiksi ilmiah atau futuris atau teknologi masa depan gitu, saya berkesimpulan bahwa genre fiksi ilmiah inilah yg menjadi awal kebangkrutan cergam.
alasan sederhananya adalah, indonesia - lingkungan kita tidak mendukung baik mentalitas, cara pikir maupun teknologi yg kita miliki tidak mendukung utk membentuk logika dan nalar fiksi ilmiah itu sendiri.
Seberapa banyak masyarakat kita, terpisah dari komikusnya sendiri, yang membaca majalah atau jurnal2 teknologi sehingga mendukung fantasi imajinasi masa depan dunia?
Dimana tempat atau akses bagi kita utk mengetahui perkembangan terbaru dari sains dan teknologi?
Berbeda dgn Jepang, Amerika atau eropa yg punya basis teknologi made in Japan, USA, etc, apa teknologi Indonesia? Kita tak punya basis teknologi utk bermimpi ke masa depan.
Karena itu kekuatan komik kita sangat lemah kalau bercerita dari segi logika superhero atau sains fiksi lainnya. Yg ada kita hanya mampu mengekor atau merubah sana sini sedikit, tanpa ada logika nalar sains tersendiri. Baik itu karya dari Taguan ke Teguh hingga ke Hasmi.

Saya melihatnya fiksi ilmiah hanya sub genre yg diciptakan Taguan sbg variasi dari pesan yang ingin ia sampaikan. Artinya ia mencoba menjelajah berbagai kemungkinan potensi cerita komik. Pada komik2 Taguan ini, saya sempitkan hanya taguan, mungkin yg lain boleh menambahkan fiksi ilmiah atau fiksi mistik dari Zam Nuldyn, atau fiksi sejarah dari Delsy Syamsumar.
Taguan dengan sadar mengolah unsur kelokalan dengan capaian teknologi masanya. Indonesia memang bukan negara maju, tetapi pada saat itu LAPAN mempunyai proyek pengembangan roket. Cerita kapten yani tidak jauh menerawang kemana-mana tetapi bercerita dgn unsur2 konflik dan konspirasi, sedangkan batas firdaus bermain-main dengan psikologi dan pertanyaan2 filosofis.

Sungguh berbeda dgn Hasmi/Wid NS yang terpaksa menggabung unsur2 lokal berupa mistik (mirip kasus tenaga super captain Marvel dan Green Lantern) dengan tren superhero. Logika2 ini bertabrakan dgn kenyataan hidup masyarakat indonesia. Kemudian masuklah kembali kekuatan bercerita lokal melalui dagelan2 dan masalah2 keseharian dari tokoh manusia dari superhero ini yg selari dgn model superhero Spiderman, misalnya. Disini kita lihat, komik silat yg pernah sukses besar sekalipun menyumbang pada kehancuran komik lokal. Komik silat marak berbarengan dgn masuknya film2 kungfu (kl tidak salah distribusi Shawn Brothers yg mirip2 Warner Brother(bros)).
Dalam komik silat, kita mengadopsi logika kungfu yg ditambahkan kemudian dgn mistik sedikit di sana sini. Komik kita nyaris bukan berangkat murni dari pengembangan tradisi'pencak silat'.
Demikian juga yg terjadi dengan komik fiksi ilmiah dan superhero di era hasmi/wid ns. Komik kita kembali mengadopsi logika nalar sains fiksi dari komik2 amerika.

Boleh dikatakan, unsur2 kelokalan yg sebenarnya lebih menarik ketika dicampurkan dalam komik2 yg terpengaruh oleh tren silat, fiksi ilmiah dan superhero, perlahan tp pasti tergeser dan berakibat pada hilangnya kecintaan pembaca komik pada komik lokalnya sendiri.

Pada komik2 fiksi ilmiah sekarang ini, unsur2 kelokalan ini nyaris hilang atau dapat dikatakan hilang sama sekali. Sementara di masa lalu, komik fiksi ilmiah kita pun nyaris atau boleh dikatakan tidak punya bangunan nalar fiksi ilmiah tersendiri.
Bandingkan kekuatan super superhero amrik dgn tenaga dalam petarung kungfu komik hongkong dan jagoan-jagoan dari komik2 jepang. Secara kasat mata, masing2 arus utama komik dunia ini punya logika dan nalar fiksi ilmiahnya tersendiri.

jadi sebenarnya mengarang fiksi ilmiah ini jauh lebih sulit daripada merekam dan membuat komik anekdot semacam 100 tokoh jakarta itu. Fiksi ilmiah ini sebaiknya muncul atau dibangun berdasarkan nalar atau landasan mental dan pikiran masyarakat indonesia sendiri. Film trilogithe Matrix merupakan contoh pertembungan dan pertemuan dua nalar fiksi ilmiah yg diakibatkan kemajuan teknologi informasi dan kebangkitan spiritual dari sudut pandang barat(amerika) dan timur(jepang). Dan kedua negara maju ini punya filsafat teknologinya masing2. Amerika mengejar teknologi luar angkasa sedangkan jepang mengejar teknologi dasar lautan. =)

No comments:

Post a Comment