Friday, March 14, 2008

Novel Grafis dan Narasi Visual

Novel grafis (graphic novel dlm bhs aselinya) tidak dapat dipungkiri merupakan terminologi yang bernilai ekonomis sekaligus ideologis bagi Will Eisner dan para pengikutnya.

Dalam narasi visual film, sebagai contoh Pasir Berbisik, unsur fotografis sangat kental dalam pengambilan gambar (sinematografi)nya. Sang pembuat film terlihat menginginkan kesempurnaan pada setiap pengambilan frame ke frame, sehingga nyaris semua framing dalam film tsb dapat dianggap berdiri sendiri sbg foto tunggal. Dalam hal narasi visual disini saya sebutkan sebagai sebuah self-conciouss(ness), saya lupa ada penulis yg menerjemahkannya bukan sbg 'kesadaran diri' tetapi lebih tepatnya keterbangunan-diri.

Kembali pada novel grafis, saya ingin menambahkan bahwa unsur penjarak (differance) novel grafis dengan komik adalah keterbangunan-diri ini. Novel grafis menjadi terbedakan dari komik bukan hanya karena kompleksitas struktur/bangunan ceritanya, atau hanya dikarenakan dorongan maknawi yang timbul dari cerita. Unsur keterbangunan-diri inilah yang kemudian menumbuhkan minat pembaca komik yg sekaligus pendalam komik untuk menggali relasi novel grafis dan kesejarahan komik diteruskan pada illustrasi dan kesenian grafis lainnya.

Self-conciouss ini melibatkan pembaca/pengamat (reader/viewer) berada pada posisi sentral penuh dengan keterbangunan-diri. Dia tidak hanya sadar sedang membaca cerita yang dituturkan oleh komikus melalui buku komik yang dibacanya, tetapi sesuatu yang bersifat transendental terjadi pada kesadarannya itu.

Pada komik Promothea dan Flith, unsur2 metafiksi atau karakter dalam karakter atau cerita dalam cerita digambarkan muncul mengatasi atau mengintervensi cerita yang sedangkan berlangsung, contoh sederhananya adalah ketika tiba2 ada panel yg punya kehidupan cerita tersendiri, atau kemunculan mata pena menerjang gambar dan cerita dalam panel-panel.

Pembaca yang dalam kesadaran tengah mengikuti jalinan cerita, tiba-tiba dikejutkan oleh cerita lain yang masuk melalui visual tertentu. Keterbangunan-diri inilah yang merupakan bagian dari metafiksi.

Dalam novel grafis, terdapat berbagai cara pengolahan dan tingkat penyampaian oleh komikus utk menimbulkan keterbagunan-diri pembacanya.

Unsur gambar dan unsur teks makin tidak terpisahkan tetapi pada saat yang sama teks dapat mempengaruhi gambar, dapat memanipulasi pembaca, atau sebaliknya gambar tidak selari dengan teks. Alih-alih membaca komik, yang sedang terjadi adalah komik membaca kita. Narasi visual pada novel grafis mendorong pembaca untuk tidak hanya mengikuti cerita atau hanyut dalam cerita dan mengiyakan alur cerita yang dibawakan oleh komikus. Akan tetapi novel grafis mendorong kesadaran pembaca untuk terbangun dan membangun persepsinya sendiri terhadap apa yang dibacanya.

Karena itu dalam novel grafis banyak bermunculan metafora-metafora visual yang perlu dikaji dengan pisau bedah analisa semiotika gambar (pictorial semiotics - memungut terminologi yang ditawarkan oleh Goren Sonnesson).

Novel grafis sebagai artefak kebudayaan manusia, hingga kini masih mencari legitimasinya ditengah arus keragaman budaya kosmopolitan yang ada. Sebagai artefak sosial, komik merupakan medium ekspresi yang menciptakan artikulasi-artikulasi narasi visualnya sendiri, Groensteen menyebut ini dengan arthologi. Dan saya menyimpulkan novel grafis merupakan penghalusan (refinement) dari komik yang bertumpu pada keterbangunan-diri pada diri pembacanya.

No comments:

Post a Comment