Tuesday, September 22, 2009

komik komersil non-komersil!?

Beberapa hari belakangan ini di forum milis komik ada wacana ttg komersialisasi komik. bagi saya issu ini adalah menggelikan. Bagaimana menjual komik dan atau bagaimana komik yg menjual itu bukanlah persoalan dalam menciptakan komik yg baik dan menarik. Komersialisasi komik adalah urusan bisnis murni. Ia adalah urusan bagaimana menempatkan sebuah produk komik di pasar, setiap produk mempunyai target capaian yg berbeda-beda sebagai ukuran kesuksesannya. Ukuran lakunya penjualan sebuah pesawat terbang komersil berbeda dgn ukuran lakunya pesawat tempur, masing2 ada targetnya.
Demikian juga dgn komik, setiap genre komik punya audiens yg berbeda-beda, adalah pekerjaan tim pemasaran utk memikirkan cara menemukan, meraih dan menggaet pangsa pasar bagi sebuah produk komik.

Laku tidaknya sebuah komik tidak serta merta mutlak menjadi ukuran kualitas sebuah karya komik, karena laku atau tidak adalah ukuran kuantitas penjualan sesebuah barang.
Sebuah teknologi yg baik sekalipun butuh strategi pemasaran yg tepat, dan berbagai taktik utk bertahan di pasaran. Jadi sesebuah karya komik yg berkualitas sekalipun butuh strategi pemasaran yg tepat. Dan membicarakan soal strategi pemasaran komik bukanlah persoalan bagaimana menciptakan karya komik yg bagus, itu adalah urusan bisnis.

Membicarakan teknologi yg baik dan berguna bukan berarti membicarakan pembuatan teknologi yg laku dijual, tetapi membicarakan teknologi dalam konteksnya sendiri. Demikian juga dgn komik yg bagus bukan berarti bicara soal bagaimana melariskan jualannya, tetapi kembali pada kajian komik itu sendiri.

Wacana cergam atau komik Indonesia hanya melulu berkenaan dgn wacana pasar. Kegagalan memahami pembaca, kegagalan memahami komik itu sendiri merupakan kegagalan dalam mengangkat cergam (komik Indonesia) sebagai karya yg distingtif.

Monday, September 21, 2009

Listening to the Drawing: A Study of Phenomenology of Comics

Saat ini sedang dibikin pusing, tentang bagaimana mengaitkan representasi - fenomenologu - ekspresi - visual - komik.
Secara kasarnya sudah ada tetapi menyusun dalam bentuk argumen dengan kerangka teori persepsi visual, teori komik, seni dan desain, serta fenomenologi memerlukan sebuah kerja keras yg sungguh tidak mudah.
Secara pribadi saya tidak tahu harus memulainya darimana. Gambaran mengenai itu ada, tetapi sungguh sulit untuk menceritakan apalagi menyusunnya menjadi sebuah tesis yg layak diterima secara akademis (bukan sekedar menyenangkan sekelompok kecil orang, tetapi komunitas studi komik yg otoritatif).

Ide dasarnya adalah memandang komik yg meski dianggap budaya massa, atau karya popular dan banal, tetapi merupakan medium yg bermanfaat bagi penyadaran diri manusia. Hal itu dapat terjadi apabila kita membuka diri untuk melihat kembali komik dan membacanya sehingga diri kita sadar sebenarnya sedang mendengar sebuah cerita sedang dituturkan secara imajinatif.

Fenomena mendengarkan komik adalah sesuatu yg penting bagi pembukaan diri manusia. Komik sama seperti medium seni lainnya spt musik, sastra, puisi, lukisan, atau bentuk2 seni rupa lainnya adalah benda2 yg ada dalam keseharian kita tapi luput dari perhatian.

Sebuah perhatan bahwa sebenarnya tanpa sadar, bagi para pembaca komik, medium populer ini, dapat menjadi pintu bagi kita 'membuka' diri terhadap kehadiran sang Ada. Mendengar komik merupakan proses bagaimana Pengada mengada-di-dunia.
Pembaca komik menyelami bacaannya seakan hidup-di-dunia yang diciptakan komikus. pembaca ber-se-tubuh dengan komik yg di-baca-nya.
Komunitas komik apabila sudah berkumpul, mereka seolah-olah berada-di-dunia komik itu sendiri.

Apa yg di-representasikan oleh komik bukanlah realitas nyata sebagaimana di dunia, tetapi merupakan representasi dari sebuah dunia tersendiri yaitu dunia-komik.