Wednesday, October 29, 2008

NeueCergam: Membangun Konsep Sastra Grafis

Cergam is a term that used to call Indonesia's comics book. I've been thinking to build a concept of a new approach to Indonesia's comics. Some of us may known an exhibition held by Norman Rockwell museum called "LitGraphic: The World of Graphic Novel".
That words: LitGraphic, was similar to my concept of 'sastra grafis' or translated as 'graphic literature'. A Neue-Cergam means to find a new way of telling stories through graphics elements: photos, elements of graphics, pictures, drawings, everything that we graph or printed on a surface.
Sekarang ini gue lagi iseng2 aja membentuk sebuah konsep neue-cergam yg sebenarnya berangkat dari latar belakang pendidikan dkv (desain grafis) gue dan kecintaan pada sastra. pendek kata hal itu melahirkan ide gue tentang cergam sebagai sastra grafis (sastra + desain grafis). Cergam lama yg gue ikutsertakan ke komikasis itb beberapa tahun lalu adalah eksprimentasi awal dengan mengambil inspirasi dari koleksi foto2 album kenangan masa kecil dengan judul 'Masa Kecil' yang berkebetulan sama dengan judul puisi "masa kecil" joko pinurbo. setelah cukup lama ditinggalkan, gue kembali merenungkan ttg sastra grafis ini. dengan kondisi yang ada sekarang ini dan memperhatikan kecenderungan perubahan teknologi home printing dan juga teknologi fax print fotokopi yg menyatu di satu mesin, akhirnya gue kepikiran kalau sastra grafis bisa dipermainkan dengan kemudahan itu. Kalau membeli satu set mesin fotokopi tentu mahal, tetapi masih lebih murah membeli satu set mesin fax, fotokopi dan scan yang sekarang menjadi trend utk perkantoran.
Kualitas fotokopi sekarang pun malah sudah seperti hasil scanning, spt mesin xerox-fuji belakangan ini. Scan, edit, dan print, menjadi metode yang menarik utk dijadikan ruang bermain bagi sastra grafis. Sebuah mesin scan dapat dipermainkan utk mencari kemungkinan2 baru sebagai bahasa ungkap sastra fotokopian.

ini dulu, ntar dilanjutkan kembali.

Monday, October 06, 2008



I submit a logo design for epic challenge of deviantart.com. Please take a look and give some comment, what do you feel about my design.
Gue iseng ikutan kompetisi logo di deviantart.com kangen ng-desain2 lagi. Main ke link ini dan berilah dikit2 komen buat logoku itu. Makasih...hehehe...

Thursday, June 19, 2008

Cergam: Komik yang Menyastrakan Grafis

Sastra grafis. Bukanlah sebuah neologisme baru atau terminologi ataupun istilah untuk menggantikan komik atau cerita bergambar (cergam). Sastra grafis sudah ada sejak lama, hanya saja ketika huruf dan gambar dipisahkan maka secara fundamental sastra grafis tidak mungkin untuk dimunculkan kembali tanpa menimbulkan kontroversi.

Bagaimana caranya menyastrakan grafis? Apakah mungkin sebuah penilaian untuk karya tekstual ditempatkan pada karya visual? Kalau kita melihat huruf kanji, setiap keindahan penulisan huruf ideogram dinilai dari segi visualnya disamping keindahan bahasa puitisnya. Sastra grafis adalah bentuk-bentuk gambar atau segala sesuatu yang dapat dikategorikan sebagai objek grafis, dalam hal ini adalah komik atau cergam. Sastra adalah sesuatu cerita yang dituturkan dengan memperhatikan keindahan penuturannya. Keindahannya dapat saja diperdebatkan, tetapi pada intinya sastra ingin memunculkan kehalusan dan keindahan dari seni berkisah.

Manakala kisah-kisah itu tidak lagi dituturkan melulu dengan teks, tetapi juga diiringi gambar sehingga akhirnya gambarlah yang mendominasi pengisahan, maka perlu diperhatikan adanya 'kesusastraan grafis'.

Sastra grafis adalah semacam upaya puitisasi grafis, dalam hal ini pengisahan cerita melalui visual gambar di atas permukaan dua dimensional. Puitisasi grafis bukanlah sebatas memvisualkan, menggambarkan atau mengilustrasikan puisi-puisi. Puitisasi kalau boleh dikatakan sebagai dorongan untuk mendramatisir narasi visual dari gambar-gambar yang berurutan dalam cergam. Puitisasi maksudnya adalah sebuah metafora visual, kiasan atau tamsilan yang dikisahkan lewat grafis, baik itu gambar, sketsa, foto, atau olahan komputer yang dapat dibentangkan di atas media dua dimensional atau layar datar monitor.

Sastra grafis artinya menyastrakan grafis, yang maksudnya mendramatisir atau mempuitisasikan komposisi visual dalam cergam. Kalau dalam puisi ada yang menggunakan permainan kata-kata, bunyi, metafor, analogi, dan lain sebagainya untuk menyampaikan keindahan pesan-pesannya, maka dalam cergam, disampaikan melalui dramatisasi gambar, desain visual, gaya ilustrasi, yang bermuara pada tujuan uraian kisah melalui grafis.

Sastra grafis bermakna menyastrakan grafis, bukan sekedar menggrafiskan sastra atau sebatas mengambil cerita sastra untuk kemudian dituturkan sebagai komik atau cergam tanpa pengolahan visual lebih lanjut. Sastera grafis bukan merujuk pada sumber cerita komik dari bahan-bahan sastra, akan tetapi proses menciptakan bahasa komik yang sastrawi. Dengan menganalogikan proses membaca materi sastrawi, maka sastra grafis menganalogikan sastra yang dibacakan menjadi sifat atau nilai sastra yang diungkapkan lewat visual.

Sunday, March 30, 2008

Meta Closure dan Relief Candi

Meta-Closure in Single Panel Comics dan Relief Candi Multi Layer.
http://comixtalk.com/print/13193
link di atas ini tentang Closure and Synthesis.
setelah membacanya, seketika saya teringat pada ulasan Primadi ttg relief candi yg dianggap sbg komik multi-layer.

Sedikit banyak ulasan ttg Meta-CLosure ini mirip dgn lapisan-lapisan cerita berurutan dalam sebuah relief candi. misalnya candi borobudur.

Adegan memanah yg dibuat berlangsung dalam satu relief batu ini juga mirip dgn lukisan Duchamp ttg seorang perempuan menuruni tangga. Dalam fotografi dikenal dgn teknik multiple-shots.

Friday, March 14, 2008

Sumbangan Komik Fiksi Ilmiah (superhero) pada kebangkrutan komik lokal

Dari kajian saya melihat sejarah komik Indonesia yg sering diutarakan teman2, dan juga melihat beberapa tema2 komik superhero atau fiksi ilmiah atau futuris atau teknologi masa depan gitu, saya berkesimpulan bahwa genre fiksi ilmiah inilah yg menjadi awal kebangkrutan cergam.
alasan sederhananya adalah, indonesia - lingkungan kita tidak mendukung baik mentalitas, cara pikir maupun teknologi yg kita miliki tidak mendukung utk membentuk logika dan nalar fiksi ilmiah itu sendiri.
Seberapa banyak masyarakat kita, terpisah dari komikusnya sendiri, yang membaca majalah atau jurnal2 teknologi sehingga mendukung fantasi imajinasi masa depan dunia?
Dimana tempat atau akses bagi kita utk mengetahui perkembangan terbaru dari sains dan teknologi?
Berbeda dgn Jepang, Amerika atau eropa yg punya basis teknologi made in Japan, USA, etc, apa teknologi Indonesia? Kita tak punya basis teknologi utk bermimpi ke masa depan.
Karena itu kekuatan komik kita sangat lemah kalau bercerita dari segi logika superhero atau sains fiksi lainnya. Yg ada kita hanya mampu mengekor atau merubah sana sini sedikit, tanpa ada logika nalar sains tersendiri. Baik itu karya dari Taguan ke Teguh hingga ke Hasmi.

Saya melihatnya fiksi ilmiah hanya sub genre yg diciptakan Taguan sbg variasi dari pesan yang ingin ia sampaikan. Artinya ia mencoba menjelajah berbagai kemungkinan potensi cerita komik. Pada komik2 Taguan ini, saya sempitkan hanya taguan, mungkin yg lain boleh menambahkan fiksi ilmiah atau fiksi mistik dari Zam Nuldyn, atau fiksi sejarah dari Delsy Syamsumar.
Taguan dengan sadar mengolah unsur kelokalan dengan capaian teknologi masanya. Indonesia memang bukan negara maju, tetapi pada saat itu LAPAN mempunyai proyek pengembangan roket. Cerita kapten yani tidak jauh menerawang kemana-mana tetapi bercerita dgn unsur2 konflik dan konspirasi, sedangkan batas firdaus bermain-main dengan psikologi dan pertanyaan2 filosofis.

Sungguh berbeda dgn Hasmi/Wid NS yang terpaksa menggabung unsur2 lokal berupa mistik (mirip kasus tenaga super captain Marvel dan Green Lantern) dengan tren superhero. Logika2 ini bertabrakan dgn kenyataan hidup masyarakat indonesia. Kemudian masuklah kembali kekuatan bercerita lokal melalui dagelan2 dan masalah2 keseharian dari tokoh manusia dari superhero ini yg selari dgn model superhero Spiderman, misalnya. Disini kita lihat, komik silat yg pernah sukses besar sekalipun menyumbang pada kehancuran komik lokal. Komik silat marak berbarengan dgn masuknya film2 kungfu (kl tidak salah distribusi Shawn Brothers yg mirip2 Warner Brother(bros)).
Dalam komik silat, kita mengadopsi logika kungfu yg ditambahkan kemudian dgn mistik sedikit di sana sini. Komik kita nyaris bukan berangkat murni dari pengembangan tradisi'pencak silat'.
Demikian juga yg terjadi dengan komik fiksi ilmiah dan superhero di era hasmi/wid ns. Komik kita kembali mengadopsi logika nalar sains fiksi dari komik2 amerika.

Boleh dikatakan, unsur2 kelokalan yg sebenarnya lebih menarik ketika dicampurkan dalam komik2 yg terpengaruh oleh tren silat, fiksi ilmiah dan superhero, perlahan tp pasti tergeser dan berakibat pada hilangnya kecintaan pembaca komik pada komik lokalnya sendiri.

Pada komik2 fiksi ilmiah sekarang ini, unsur2 kelokalan ini nyaris hilang atau dapat dikatakan hilang sama sekali. Sementara di masa lalu, komik fiksi ilmiah kita pun nyaris atau boleh dikatakan tidak punya bangunan nalar fiksi ilmiah tersendiri.
Bandingkan kekuatan super superhero amrik dgn tenaga dalam petarung kungfu komik hongkong dan jagoan-jagoan dari komik2 jepang. Secara kasat mata, masing2 arus utama komik dunia ini punya logika dan nalar fiksi ilmiahnya tersendiri.

jadi sebenarnya mengarang fiksi ilmiah ini jauh lebih sulit daripada merekam dan membuat komik anekdot semacam 100 tokoh jakarta itu. Fiksi ilmiah ini sebaiknya muncul atau dibangun berdasarkan nalar atau landasan mental dan pikiran masyarakat indonesia sendiri. Film trilogithe Matrix merupakan contoh pertembungan dan pertemuan dua nalar fiksi ilmiah yg diakibatkan kemajuan teknologi informasi dan kebangkitan spiritual dari sudut pandang barat(amerika) dan timur(jepang). Dan kedua negara maju ini punya filsafat teknologinya masing2. Amerika mengejar teknologi luar angkasa sedangkan jepang mengejar teknologi dasar lautan. =)

Novel Grafis dan Narasi Visual

Novel grafis (graphic novel dlm bhs aselinya) tidak dapat dipungkiri merupakan terminologi yang bernilai ekonomis sekaligus ideologis bagi Will Eisner dan para pengikutnya.

Dalam narasi visual film, sebagai contoh Pasir Berbisik, unsur fotografis sangat kental dalam pengambilan gambar (sinematografi)nya. Sang pembuat film terlihat menginginkan kesempurnaan pada setiap pengambilan frame ke frame, sehingga nyaris semua framing dalam film tsb dapat dianggap berdiri sendiri sbg foto tunggal. Dalam hal narasi visual disini saya sebutkan sebagai sebuah self-conciouss(ness), saya lupa ada penulis yg menerjemahkannya bukan sbg 'kesadaran diri' tetapi lebih tepatnya keterbangunan-diri.

Kembali pada novel grafis, saya ingin menambahkan bahwa unsur penjarak (differance) novel grafis dengan komik adalah keterbangunan-diri ini. Novel grafis menjadi terbedakan dari komik bukan hanya karena kompleksitas struktur/bangunan ceritanya, atau hanya dikarenakan dorongan maknawi yang timbul dari cerita. Unsur keterbangunan-diri inilah yang kemudian menumbuhkan minat pembaca komik yg sekaligus pendalam komik untuk menggali relasi novel grafis dan kesejarahan komik diteruskan pada illustrasi dan kesenian grafis lainnya.

Self-conciouss ini melibatkan pembaca/pengamat (reader/viewer) berada pada posisi sentral penuh dengan keterbangunan-diri. Dia tidak hanya sadar sedang membaca cerita yang dituturkan oleh komikus melalui buku komik yang dibacanya, tetapi sesuatu yang bersifat transendental terjadi pada kesadarannya itu.

Pada komik Promothea dan Flith, unsur2 metafiksi atau karakter dalam karakter atau cerita dalam cerita digambarkan muncul mengatasi atau mengintervensi cerita yang sedangkan berlangsung, contoh sederhananya adalah ketika tiba2 ada panel yg punya kehidupan cerita tersendiri, atau kemunculan mata pena menerjang gambar dan cerita dalam panel-panel.

Pembaca yang dalam kesadaran tengah mengikuti jalinan cerita, tiba-tiba dikejutkan oleh cerita lain yang masuk melalui visual tertentu. Keterbangunan-diri inilah yang merupakan bagian dari metafiksi.

Dalam novel grafis, terdapat berbagai cara pengolahan dan tingkat penyampaian oleh komikus utk menimbulkan keterbagunan-diri pembacanya.

Unsur gambar dan unsur teks makin tidak terpisahkan tetapi pada saat yang sama teks dapat mempengaruhi gambar, dapat memanipulasi pembaca, atau sebaliknya gambar tidak selari dengan teks. Alih-alih membaca komik, yang sedang terjadi adalah komik membaca kita. Narasi visual pada novel grafis mendorong pembaca untuk tidak hanya mengikuti cerita atau hanyut dalam cerita dan mengiyakan alur cerita yang dibawakan oleh komikus. Akan tetapi novel grafis mendorong kesadaran pembaca untuk terbangun dan membangun persepsinya sendiri terhadap apa yang dibacanya.

Karena itu dalam novel grafis banyak bermunculan metafora-metafora visual yang perlu dikaji dengan pisau bedah analisa semiotika gambar (pictorial semiotics - memungut terminologi yang ditawarkan oleh Goren Sonnesson).

Novel grafis sebagai artefak kebudayaan manusia, hingga kini masih mencari legitimasinya ditengah arus keragaman budaya kosmopolitan yang ada. Sebagai artefak sosial, komik merupakan medium ekspresi yang menciptakan artikulasi-artikulasi narasi visualnya sendiri, Groensteen menyebut ini dengan arthologi. Dan saya menyimpulkan novel grafis merupakan penghalusan (refinement) dari komik yang bertumpu pada keterbangunan-diri pada diri pembacanya.

Saturday, January 26, 2008

Masa Depan Komik Indonesia: Pencarian atas Identitas Kultural

Apa sih definisi komik Indonesia? Apa perlunya mendefinisikan komik Indonesia? Dari sudut pandang mana mau didefinisikan? Kenyataan bahwa saat ini terjadi perubahan arus pekerjaan skillfull yang beralih ke negara-negara dunia ketiga atau negara berkembang, termasuk terbukanya lahan pekerjaan membuat ilustrasi berkaitan dengan komik dari luar negeri, apakah itu menguntungkan bagi perkembangan komik lokal atau tidak?

Semuanya disinggung pendek-pendek sekedar ilham dadakan.

Sebenarnya saya tak punya otoritas untuk mendefinisikan apa itu komik Indonesia, tapi karena melihat isu yang lucu tentang klaim kesenian dan kebudayaan antara negeri serumpun, yang akhirnya membuat Presiden SBY memberi cenderamata kepada Pangeran Jepang berupa ‘Angklung’, padahal selama ini baru diketahui kalau guru angklung mendapatkan nafkahnya dari mengajar angklung di negeri tetangga. Konon katanya seni budaya kita tetapi justru negeri lain yang perhatian dengannya. Terlebih aneh lagi ketika diterbitkan buku tentang perjalan selama 40 hari ke Eropa memperkenalkan seni angklung Indonesia oleh sekelompok orang yang nyaris atau memang sudah bergelandang dan nyaris tidak ada perhatian sama sekali dari pihak pemerintah Indonesia sendiri. Kenapa aneh? Karena akhirnya dominasi perangkat makan minum dari perak dengan cap garuda pancasila, lukisan, dan terutama wayang kulit dan jenis-jenisnya yang lain mulai tergantikan dengan ‘angklung’.

Angklung menjadi simbolik identitas budaya Indonesia di era global yang saling menekan budaya-budaya bangsa yang ‘kecil’. Selain pemenuhan kebutuhan ekonomi, bagaimanapun seseorang membutuhkan identitas kultural bagi dirinya.

Mungkin belum ada lagi komikus yang terpikir untuk membuat cerita tentang ‘angklung’, tapi mungkin ada yang membantah, kalau terpikir sudah ada tapi belum sempat diwujudkan. Mengapa angklung? Tidak ada apa-apa sebenarnya, cuma selintas lalu saja.

Sebenarnya juga saya juga tidak tahu bagaimana mendefinisikan komik Indonesia itu. Disini kebetulan saja sekedar ingin bertanya pendapat tentang pandangan masing-masing orang dalam mewujudkan komik yang paling ter-indonesia (penggunaan bahasa yang sangat tidak meng-indonesia).

Komik Indonesia mungkin tidak perlu didefinisikan secara mutlak tapi bagi orang seperti saya, rasanya perlu mempunyai kaidah-kaidah dan atau guideline, garis panduan untuk mengenali komik yang meng-Indonesia. Meskipun budaya dunia sudah begitu mengglobal dan campur aduk di Indonesia tetapi saya termasuk orang kolot yang percaya, seni dan identitas budaya Indonesia masih harus diciptakan dengan tanpa melupakan yang lama. Bentuk boleh berubah tapi esensi tetap sama dan dikembangkan, diperkaya dan disempurnakan. Tidak ada budaya yang sempurna lahirnya, karena budaya itu kreasi manusia.

Komik Indonesia menurut pandangan saya itu adalah ditinjau dari visualisasi dan konsepsinya.

Secara fisiknya, penampilan komik Indonesia harus dapat mencirikan wajah-wajah orang Indonesia sendiri, dari figur wajah sampai kontur tubuh. Secara keseluruhan gambar komik Indonesia harus merupakan representasi visual (visual representation) dari alam pikir orang Indonesia, karena itu seharusnya idiom-idiom visual dalam komik Indonesia menampilkan bahasa visual-nya yang merujuk kepada alam, lingkungan dan masyarakat dimana komik Indonesia itu dilahirkan.

Kalaupun komik itu mengambil cerita dari segala penjuru dunia, misalnya dari dongeng seribu satu malam hingga hikayat beowulf dan grendel, atau bersetting cerita di luar negeri, di alam khayal antah berantah, tetap saja identitas komik Indonesia harus dapat diwujudkan dalam gambar visualnya. Cara seorang komikus Indonesia melukiskan dan menginterpretasi atau menafsirkan kembali cerita dari luar negeri, setting negeri antah berantah, adalah yang membedakannya dari komikus-komikus negeri lain. Kemampuannya berpikir, menganalisa, mengkritisi dan mensintesa cerita dan setting dari luar negeri itu menjadi komik Indonesia itulah yang menjadikannya sebagai komik ‘Indonesia’.

Kalaulah ada seribu komikus ilustrator berbangsa Indonesia bekerja untuk komik-komik di Jepang, Amerika dan Eropa, maka adakah karya-karya mereka dapat kita klaim sebagai ‘komik Indonesia’? atau

Kalaulah ada seribu judul komik yang dicetak dan diterbitkan di Indonesia tetapi bukan berdasarkan cerita atau ide cerita dari Indonesia atau orang Indonesia sendiri, dapatkah disebut sebagai komik Indonesia? atau

Mungkin suatu saat nanti karena kondisi negeri republik Indonesia tidak kondusif untuk kerja-kerja kreatif seperti membuat komik ini, pada akhirnya komik Indonesia menemukan tempatnya di luar negeri, dapatkah komik-komik karya anak Indonesia yang diterbitkan oleh penerbit luar negeri disebut sebagai komik Indonesia? atau

Haruskah komik Indonesia dikarang dan digambar oleh anak Indonesia sendiri? Bukan tidak mungkin komik Indonesia di masa depan adalah karya komikus luar negeri, mengingat sejarah bangsa Indonesia pun telah banyak diteliti, ditulis dan dibukukan oleh bangsa asing. Bukan tidak mungkin pula masa depan komik Indonesia berada di tempat atau di tangan bukan orang Indonesia sendiri.

Besar kemungkinan komik Indonesia eksis dan hadir bukan di Indonesia, bukan dikarang oleh anak Indonesia dan bukan pula digambar oleh komikus Indonesia. Sebagai contoh, barangkali mirip dengan Van Dogen yang membuat komik Rampokan Java. Komik (tentang) Indonesia eksis di luar negeri dan menjadi bacaan bermutu bagi masyarakat luar negeri. =)

Secara sederhana, komik Indonesia adalah komik yang mencitrakan ke-indonesia-an baik melalui tampilan representasi visual dan penggunaan idiom-idiom visualnya, maupun melalui konsepsi berupa cerminan olah pikir, refleksi, atau makna dari masyarakat (komikus sendiri) Indonesia yang melampaui sekedar cerita ataupun gambar. Seperti pandangan orang Jepang yang mengatakan meskipun orang bukan Jepang dapat berbahasa fasih atau bahkan lebih baik dari orang Jepang sendiri, karena dia bukan orang Jepang maka orang asing itu tidak dapat mewarisi spirit bangsa Jepang, meskipun ia lahir dan besar dalam budaya Jepang, sedangkan dia tidak mempunyai darah turunan bangsa Jepang. Secara lucu-lucuan, bagaimanapun bagusnya orang bule menari tarian Bali, namun si bule mungkin tidak pernah dapat menjiwai tarian seperti orang Bali menjiwainya.