Thursday, January 18, 2007

Revisiting Tjergam: The Origin of Indonesian Graphic Novel

Tentang Tjergam: Novel Grafis Asli Indonesia, Sebuah Pledoi.
(Tulisan ini diizinkan untuk dipublikasi ulang ke Wikipedia)

Percaya tidak percaya, pledoi ini datang dari sebuah ketidakpedulian, kesuntukan dan ke-isengan belaka. Dengan keisengan itu sengaja diajukan disini sebuah argumen bahwa:
"TJERGAM = GRAPHIC NOVEL = BANDE DESINEE"

Komik menurut Francis Laccasin (1971) dan koleganya dinobatkan sebagai `seni ke-sembilan', sesungguhnya ini hanya sebuah simbolisasi penerimaan komik ke dalam ruang wacana senirupa, yaitu senirupa kesembilan, sebenarnya terserah tak menjadi soal siapa atau apa saja seni yang kesatu sampai kedelapan. Urutan bukan menjadi masalahnya, karena komik dikonotasikan sebagai seni kesembilan secara kebetulan, itu saja.

Menurut sejarahnya sekitar tahun 1920-an, Ricciotto Canudo pendiri “Club DES Amis du Septième Art”(salah satu klub sinema Paris yang awal), seorang teoritikus film dan penyair dari Italia inilah yang mengutarakan urutan 7 kesenian di salah satu penerbitan klub tersebut tahun 1923-an. Kemudian pada tahun 1964 Claude Beylie menambahkan televisi (atau radiovision hehe...) sebagai yang kedelapan, dan komik berada tepat dibawahnya, seni kesembilan.

Ceritanya begini, Thierry Groensteen, teoritikus dan pengamat komik yang akan segera diterbitkan buku komik, eh, tentang kajian komiknya tahun 1999 berjudul "Système de la bande dessinée (Formes sémiotiques)" diterjemahkan tahun 2007 menjadi "The System of Comics", berbicara soal 'penemuan' terminologi 'Ninth Art' atawa Seni keSembilan dalam pengantar edisi pertama majalah 9e Art di Perancis. Menurutnya, yang pertama kali memperkenalkan istilah itu adalah Claude Beylie, dia menulis judul artikel, "La bande dessinee est-elle un art?", dan seni kesembilan itu disebut pada seri kedua dari lima artikel di majalah "Lettres et Medecins", yang terbit sepanjang Januari sampai September 1964.

Jadi, baru pada tahun 1971, si F. Laccasin mencantumkan komik sebagai seni kesembilan di majalah (atau buku?) "Pour un neuvieme art", sebagaimana yang dikutip oleh Boneff (1972).

Sedikit pengulangan kembali, sebagaimana sudah diketahui (tp belum secara umum), bahwa menurut pengamat budaya, Arswendo Atmowiloto (1980-an di jurnal Kebudayaan), pernah menyebutkan bahwa lahirnya akronim `Tjergam' yang menjadi istilah komik klasik di indonesia berasal dari `Tjerita berGambar', yang konon katanya dikreasikan untuk `menghaluskan' istilah serapan `komik' (comics) dari bahasa asing, yang pada masa itu mempunyai reputasi buruk. Mungkin komikus, eh, cergamis era itu lebih tahu soal kehadiran komik2 yg banyak mengandungi pornografi dan pornoaksi.
Tjergam diusulkan oleh seorang cergamis sendiri, bernama Zam Nuldyn. Mengenai dimana, kapan, dan bagaimana akhirnya istilah cergam bisa meluas dan diterima, masih diperlukan penelitian historis yang lebih mendalam, sehingga kartunis T.Sutanto di pertajam menjadi hanya Cerita Gambar.

Mirip, senada dengan kemunculan istilah novel grafis (graphic novel), ada sebuah pendapat mengatakan bahwa `Novel grafis menandakan sebuah gerakan (movement) daripada sebuah bentuk (form), karena itu dalam manifestonya ini, Eddie Campbell (komikus From Hell) menyatakan tujuan gerakan ini adalah mengambil bentuk daripada buku komik, yang menimbulkan perasaan malu-malu (mengaku baca komik bagi orang dewasa kadang menimbulkan perasaan malu), lalu mengangkat martabat komik ke tingkatan yang lebih ambisius dan kaya makna. Reputasi yang kurang baik yang pernah terjadi pada komik di masa lahirnya istilah cergam, mungkin tidak bisa disamakan begitu saja dengan keadaan komik yang menimbulkan perasaan malu di amerika sana, tapi upaya menubuhkan sebuah label atau nama baru untuk komik adalah sebuah kebetulan yang nyaris tidak terlalu berbeda terjadinya.

Kalaulah ditilik dari format panel maka cergam sangat dekat dengan komik strip, mungkin karena pengaruh komik2 strip eropa, tentunya akibat kolonialisme Belanda, karenanya cergam dekat dengan istilah `bande dessinee'. Dari narasi visualnya, penuturan cergam pun mendekati cara narasi novel grafis.

CERITA BERGAMBAR (ZAM NULDYN) / NOVEL BERGAMBAR (TEGUH SANTOSA)
NOUVELLE MANGA (FREDERIC BOILET)
PICTURE STORIES (RODOLPHE TOPFFER)/ PICTURE NOVELLA (DRAKE WALLER)
PICTORIAL NARRATIVES (LYND WARD)

ILLUSTORIES (CHARLES BIRO)
PICTO-FICTION (BILL GAINE)
SEQUENTIAL ART (WILL EISNER)
GRAPHIC NOVEL

Akronim Cergam, menurut Marcell Boneff ialah mengikuti/meniru istilah cerpen (cerita pendek) yang sudah lebih dulu digunakan, dan konotasinya menjadi lebih bagus, meski terlepas dari masalah tepat tidaknya dari segi kebahasaan atau etimologis kata-nya.

Cergam sebagaimana komik yang lebih renyah penyebutannya di lidah dan rahang mulut kita sekarang ini, tentu tidak terlepas daripada `gambar' dan `cerita'. Selalunya cerita dikaitkan dengan bentuk `tekstual', karena itu argumen komik adalah gambar yang bercerita tentu benar belaka.
Tetapi menilik kembali pada kelahiran komik, maka adanya teks dan gambar secara bersamaan dinilai oleh Laccasin sebagai sarana pengungkapan yang benar-benar orisinal. Kehadiran teks bukan lagi suatu keharusan karena ada unsur `strip' atau `sekuens' yang boleh dipertimbangkan sebagai jati diri komik lainnya, atau unsur `sekuensial' yang mengikuti dan membentuk narasi cerita.

Jadi, di dalam komik selalu ada unsur narasi atau penuturan, teks cerita hadir di dalam penceritaan gambar-gambar yang berkesinambungan. Cerita tidak harus lagi berupa tekstual berupa tulisan yang bercerita(bertutur).
Karena itu istilah komik klasik indonesia yaitu Cergam, ceritabergambar, cerita tak lagi harus dipingitkan dengan teks tertulis (verbal), tapi didekatkan kepada narasi atau bercerita, dalam pahaman Eisner disebutlah graphic narration (film & komik).
Istilah cergam menurut sebagian orang tidaklah perlu diangkat ungkit kembali, tetapi sebagai sebuah olah kraetifitas di dunia komik indonesia yang pernah tercatat dalam sejarah, ada baiknya tidak dilupakan begitu saja, karena meski hanya sebuah istilah kecil yang tidak begitu berarti, tetapi tetaplah ia merupakan khazanah intelektual yang pernah disumbangkan oleh cergamis atau komikus Indonesia.

Ada pernyataan menarik dari Prof. Makino dari Dept. Komik Universitas Kyoto Seika, sebagaimana dikutip dalam Martabak Keliling Komik Dunia, berkaitan dengan komik dan animasi jepang,"… yang kami buat adalah gambaran kebiasaan dan budaya kami apa adanya." Ungkapan ini dalam tafsiran saya, menunjukkan bagaimana komik dan animasi jepang membangun dan mencapai orisinalitas seniman2nya dalam berkarya. Dalam ungkapan singkatnya itu, sang professor nampaknya merujuk komik dan animasi sebagai gambaran mentalitas bangsa jepang sebagai sebuah bentuk kajian sosio-kultural.

Dua tafsiran tersebut di atas, orisinalitas atau keaslian dan gambaran mentalitas itulah yang membuat Marceel Boneff tertarik meneliti komik Indonesia selama lebih kurang 7 tahun (terjadi empatpuluhan tahun yg lampau). Sebagaimana ia ungkapkan dalam pendahuluan disertasinya, bahwa ia memilih komik di indonesia sebagai pokok kajian dari sudut sosiologis dan psikologis adalah karena :
1) keasliannya yang begitu penting
2) memahami mentalitas bangsa indonesia

Dahulu komik2 indonesia tidak berhasil menembus toko-toko buku besar, tetapi khazanah yang terlahir cukup produktif dan layak menjadi kajian. Kebalikan yang terjadi sekarang adalah komik2 indonesia cukup berhasil masuk ke toko-toko buku besar, tetapi untuk menjadi sebuah bahan kajian masih perlu diperjuangkan baik dari segi kuantitas apalagi kualitas. Perjalanan memperjuangkan komik baru saja dimulai, masih jauh panggang dari api, api yang ada pun masih tapi dalam sekam yang perlu di kipas-kipas terus.

2 comments:

  1. Hai, pada 19 Februari 2007, seorang pengguna Wikipedia dengan username "K4rna" telah memindahkan isi blog ini menjadi artikel Wikipedia.

    Jika anda adalah user K4rna (dan tentunya kami juga berharap demikian), tolong beri pernyataan DI BLOG INI bahwa isinya telah dibebaskan untuk dipublikasikan di Wikipedia Bahasa Indonesia di bawah lisensi GFDL, yang berarti selanjutnya akan bebas pula untuk diedit, didownload, bahkan dipublikasi ulang ke situs lain oleh pengguna Wikipedia.

    Wikipedia sangat menghormati hak cipta atas publikasi tulisan. Karena itu setiap pernyataan yang anda berikan akan sangat membantu. Jika dalam 2 minggu tidak ada jawaban dari anda, kami akan menghapus tulisan tersebut dari Wikipedia.

    Anda bisa mengubungi saya di Wikipedia sebagai Pengguna:Hariadhi

    ReplyDelete
  2. salam kenal hariadhi,
    saya baru saja meng-email anda.
    kebetulan saya baru pertama kali menyumbang tulisan ke wikipedia ini.
    maaf, karena saya benar2 bingung waktu mau memberitahu tentang penambahan teks melaui wikipedia itu.

    tulisan tambahan itu adalah dari blog saya sendiri, dengan sedikit perubahan. mudah2an bisa dikembangkan lebih lanjut lagi.

    terimakasih.

    ReplyDelete