Sunday, December 23, 2007

Representasi Visual pada Komik: Peranan Atmosfer Cerita dan Idiom Visual

Peran Antagonis, kenapa ada sebagian orang yang alergi kalau menjadikan sesebuah negara sebagai peran antagonis? Dalam setiap film2nya, kita bisa melihat perubahan-perubahan peran antagonis yg ada pada film amerika. Ketika perang dingin, Sovyet Rusia menjadi musuh, kemudian dalam film perang vietnam, Viet Cong, dalam film melawan teroris, Arab dan org2 berwajah Timteng, sekarang giliran China pula.
entah kenapa muncul keberatan ketika komik aksi lokal menempatkan Amerika atau barat sebagai peran antagonis. Mungkinkah ini sebuah indoktrinasi yg sudah menguasai bawah sadar sekelompok orang yang biasa mengkonsumsi 'ide' bahwa amerika dan barat selalu ada di pihak yang benar, dan kalaupun mereka bersalah, secara demokratis akan ada pembela kebenaran dari pihak mereka sendiri tanpa harus didikte oleh pihak luar.
Peran antagonis sekarang ini dipegang oleh Amerika dan UniEropa yang setengah hati dan cenderung menolak kesepakatan Protokol Kyoto ttg perlindungan alam. Tentu saja rakyat yg diwakili Ameriak dan UE ini adalah rakyat pemegang modal, bukan rakyat secara umumnya, karena toh, rakyat California melalui gubernurnya Arnold cenderung menyetujui protokol kyoto. Belum lagi pejuang-pejuang Greenpeace yg meski mendapatkan dana dari para pemilik kapital juga, adalah berasal dari negara barat yg tersebut diatas.

Mereka mau kita mengkonsumsi standar kehidupan sosial spt mereka, tidak demokratis kalau negara melarang2 rakyatnya yg mau mengikuti gaya hidup dan standar hidup ala barat. Tetapi sebagai imbalannya, dengan menekan ekonomi kita yang rendah, kita diharuskan mengimpor barang2 berteknologi maju mereka dan menukarnya dengan bahan-bahan baku dari alam kita yang tentu saja lebih murah. Contoh mudahnya spt minyak bumi. Kita mempunyai sumber minyak yg besar, tetapi tidak ditolong utk membangun infrastruktur dan mesin2 penyulingan. Minyak di jual ke mereka, diolah dan kemudian dijual kembali ke kita dgn berbagai merek, misanya Esso, BP, Shell, Caltex, dll. Kita jual misalnya 5 dolar minyak , dan terpaksa membeli kembali minyak yg sudah diolah menjadi bensin, oli pelumas dsbnya, dgn harga yg beratus-ratus kali lipat. Sebagai penyetaraannya, tentu bukan duit yg diberikan, bahan2 alam yg kita miliki yg berguna bagi mereka diekspor. ini hanya gambaran kasar, bisa panjang lebar kalo menggunakan penjelasan ekonomi ekspor impor beneran.
Karena kerusakan alam yg parah, ditambah korupsi yg minta ampun, maka negara2 berkembang spt indonesia ini menjadi sangat merusak. Tetapi negara2 maju masih setengah hati utk membantu menjaga alam negara2 berkembang, peranan mereka sejauh ini hanya memperingatkan dengan keras agar negara2 dgn sumber daya alam menjaga bumi dgn alamnya. Kalau negara2 berkembang tidak boleh menguras dan memperjual belikan sumber daya alamnya, lalu dengan apa kita harus melakukan tukaran dgn negara maju yg terus menerus menyodorkan 'barang baru' yg sudah terbiasa dikonsumsi rakyat negara berkembang kita ini?
Untuk jelasnya buku No Logo dari Naomi, bisa memberi pemahan yg lebih baik.
Buruh yg kerja memasang komputer, televesi, barang2 elektronik lainnya, mereka memang terampil, terampil memasang, tetapi mereka tidak mengusai teknologinya. Tetapi keluarga buruh itu membutuhkan barang2 elektronik tsb yg tentu saja harus dibelinya dgn harga yg jauh lebih tinggi dari pendapatannya dari kerja sbg buruh pemasang elektronik. Itulah gambaran keadaan kita sebenarnya.
Lalu hubungannya dengan komik, serupa tapi tak sama.
Kita punya konsumen pembaca komik yang besar. Tetapi sangat minim produktifitas membuat komik. Memang membuat komik tidak serumit merakit sebuah televisi. Tetapi sebenarnya sama saja. Dalam bidang teknologi, bukan mudah utk mengklaim, teknologi jepang, teknologi korea, teknologi jerman, teknologi inggris, teknologi amerika.
Setiap negara melalui riset dan penelitian menciptakan metode dan teknologi baru yg diklaim menjadi miliknya.
Meskipun komik tidaklah sampai melabelkan komik jepang, komik korean, komik amerika, komik perancis, tetapi label2 itu secara invisible memang ada. Darimana mengenali komik-komik tersebut? Dalam dunia teknologi pun bukan dari hulu ke hilir utk menyatakan sebuah teknologi itu klaim milik sesebuah negara, tetapi pada bagian tertentu yg merupakan inovasi atau invensi dari sebuah negara itulah yg diklaim sbg teknologi miliknya. ini tentunya urusan hak cipta dan perlindungan intelektual.
pada komik mungkin tidak ada klaim pada cara mengomik atau hak cipta idiom-idiom visual atau cara story-telling. tetapi bagi pembaca dan pengkajian kritis komik, hal itu terbaca sebagai DNA, jejak genetika pada komik-komik masing2 negara.
Hal ini karena komik adalah produk budaya yang tergantung pada latar belakang komikusnya dan pembacanya. Komikus yg biasa berpindah-pindah tempat dan mengenali banyak budaya, tentu mampu menghasilkan pendekatan yg berbeda dgn komikus yg hanya mengenal satu jenis kebudayaan saja.
Dua hal yg paling sederhana utk mengenali cara bertutur komik adalah cara membangun atmosfer cerita dan idiom-idiom visual yang digunakan. Atmosfer cerita dibangun melalui perwatakan karakter atau tokoh2 komik. Cara komik petualalangan Perancis, komik superhero Ameriak, dan komik shonen Jepang saling berbeda menyampaikan penokohannya. Tp bukan berarti mutlak berbeda, karena sama spt halnya teknologi, bukan dari hulu ke hilir di klaim sbg cara keseluruhannya, tetapi bagian2 tertentu yg membuat 'rasa' komik itu berbeda.
Atmosfer ini bisa dibuat lewat teknik toning pada komik jepang, teknik arsiran pada komik perancis, dan teknik bayangan gelap terang pada komik amerika. Perbedaan pendekatan menyebabkan perbedaan cara bertutur visual dan perbedaan cara dalam menciptakan atmosfer. Atmosfer ini pula yang membedakan film2 festival Inggris dengan Perancis dengan Iran dengan Jepang dengan Indonesia sendiri.
Kemudian idiom-idiom visual, contohnya gergaji potong kayu utk simbol suara ngorok org tidur. Dalam teori literatur, ungkapan2 spt ini disebut dgn fonosemantik, dan yg kadarnya paling bawah adalah onomatopoeia, yg biasa kita kenal sbg visualisasi suara pada komik. Crash, Boom, Bang! pada komik berbahasa inggris, Krak, Dhuar, Dor! pada komik berbahasa indonesia. Sedangkan karena bahasa Jepang yg menggunakan tulisan cina (kanji) identik dgn objek visual, huruf kanji adalah gambaran dari objek itu sendiri, yg disebut fonograf. Karenanya idiom-idiom visual komik Jepang agak sulit dipahami oleh budaya dgn bahasa yg berbeda (bukan bahasa tulisan model fonograf).
Misalnya pada adegan yg menunjukkan ketololan seseorang, muncul ikon bergambar burung gagak yg distilasikan melintasi panel atau halaman. Pengucapan burung gagak identik dengan pengucapan kata bodoh (dlm bahasa jepang).
Karena itu penerjemah komik adacahi mitsuru cukup rajin memberi catatan2 kaki ttg perubahan kata2 identik agar pembaca paham pada kelucuan komik2 mitsuru spt cross game, H2, dsbnya.

Tugas terberat seorang komikus yg ingin karyanya dihargai sbg komik indonesia, adalah menciptakan atmosfer dan idiom-idiom visual bagi komiknya sendiri. Dan kedua hal ini harus disosialisasikan ke pembaca. Mustahil membuat atmosfer dan idiom visual yg hanya dimengerti oleh komikusnya sendiri. Melalui halaman per halaman komiknya, komikus berusaha mensosialisasikan atmosfer cerita karangannya dan mengenakan idiom2 visual ciptaanya agar pelan2 dimengerti oleh pembaca.
Se-universal apapun komik sbg sebuah bahasa gambar, tetap perlu sosialisasi bahasa gambar itu sendiri dilakukan lewat komik.
Maka jangan heran mengapa ada orang(komunitas) yg terbiasa dgn atmosfer dan idiom visual komik superhero atau shonen, sulit mengerti apa nikmatnya membaca komik cinta2an atau drama atau komik shoujou. Komunitas pembaca komik2 Eropa akan merasa sangat terganggu dengan banyaknya dekorasi2 pada komik shoujou, padahal tujuan dekorasi bunga2an itu adalah utk menciptakan atmosfer tertentu, komik eropa sangat terstruktur komposisinya, mereka yg terbiasa dgn tuturan visual spt ini akan kerepotan dgn komik2 kungfu yg banyak garis2 gerakan dan kecepatan, apalagi ikon simbol2 yg bertaburan pada komik jepang.
Untuk sedikit mendalami pemahaman akan representasi visual dan idiom-idiom visual yg menjadi bagian dari komik ini, ada baiknya komikus mempunyai pengalaman berhadapan dengan kegiatan kesenirupaan, entah mengenal aliran2 senirupa, mengenal macam2 lukisan dan bentuk seni lainnya, atau mengetahui sedikit teori estetika.
Jika tidak, komikus kita hanya spt buruh pabrik elektronik yg tahu merakit tetapi tidak menguasai teknologinya utk menciptakan perbedaan.

No comments:

Post a Comment